ZOE Production

Nama alamat nomor telephone dan Whatsupp

Showing posts with label newsroom. Show all posts
Showing posts with label newsroom. Show all posts

Sunday, March 12, 2023

 


Apa Itu Agenda Setting ?

Sebelum lebih jauh membahas mengenai teori agenda setting itu apa ada lebih baiknya juga kita membahas terlebih dahulu mengenai sejarah dan pencetus dari teori agenda setting tersebut.

Selanjutnya pembahasan mengenai sejarah teori agenda setting akan dibahas di bawah ini.

 Teori agenda diperkenalkan pada tahun 1968 ketika kampanye pemilihan presiden AS dipelajari. Studi tersebut berhasil menemukan korelasi yang tinggi antara bobot berita dan rating pemilih, yang kemudian menjadi hipotesis teori agenda. Meningkatkan makna pokok bahasan kepada khalayak (Nuruddin, 2007: 195). Hasil penelitian ini kemudian menjadi fenomena kunci dalam penciptaan teori agenda oleh Maxwell McComb dan Donald L. Shaw pada tahun 1972 (Lubis, 2007: 106). Yang pertama diterbitkan dengan judul “The Agenda Setting Function of the Mass Media” Opini Publik Triwulanan no. 37 (Bungin, 2006: 279).

Maxwell McComb dan Donald L Shaw kemudian menjadi tokoh utama teori ini ketika para peneliti menguji teori tersebut, yang empat tahun setelah penelitian (1968-1972) baru saja mengumumkan kepada publik bahwa penelitian mereka mengkonfirmasi hipotesis asalkan mereka setuju. nama teori agenda setting teori.

Penelitian yang mengarah pada pemilihan presiden AS tahun 1968 juga menjadi latar belakang sejarah munculnya teori agenda. Meskipun dulu para sarjana memiliki ide/pandangan yang cenderung disamakan dengan teori agenda karena pengaruh media yang teramati terhadap publik. Hanya pada saat itu mereka belum mencapai titik di mana teori semacam itu dinyatakan sebagai teori agenda.


Definisi Teori Agenda Setting

Secara etimologis, konsep agenda setting dapat dipahami sebagai penetapan atau penyusunan agenda/peristiwa/kegiatan. Hal ini sejalan dengan agenda atau pengaturan kondisi yang disampaikan oleh beberapa pakar komunikasi Indonesia.

Agenda Setting Menurut McCombs dan Shaw, “media massa memiliki kemampuan untuk menggeser agenda berita mereka ke dalam agenda publik” (Griffin, 2010). Pemahaman ini menjelaskan bahwa media massa memiliki kekuatan untuk mempengaruhi bahkan membentuk cara berpikir masyarakat yang terpapar informasi. McCombs dan Shaw lebih lanjut menjelaskan bahwa media memiliki kemampuan untuk membuat orang menilai sesuatu yang penting berdasarkan apa yang dikatakan media, dengan kata lain, kita menghargai apa yang dianggap penting oleh media.

Kedua peneliti itu juga menekankan bahwa ini tidak berarti bahwa mereka menyalahkan. Sehingga media selalu secara sadar mempengaruhi publik dengan informasi dan berita yang disampaikan melalui media dan memiliki tujuan tertentu.

Teori Agenda Setting adalah teori bahwa media adalah pusat penegakan kebenaran, yang mampu mengangkat dua elemen, yaitu kesadaran dan pengetahuan, ke dalam agenda publik. Hal ini dilakukan dengan meningkatkan kesadaran publik dan mengarahkan perhatian pada isu-isu yang dianggap penting oleh media.

Apa yang disampaikan oleh media massa tentunya berpedoman pada kaidah jurnalistik yang berlaku, apalagi ada jurnalis di media massa yang mengolah dan menyampaikan informasi sesuai dengan prinsip jurnalistiknya. Namun dalam hal ini McCombs dan Shaw menjelaskan bahwa apa yang diberitakan di media dianggap penting dan harus diperhatikan oleh masyarakat luas.

Media tidak mempengaruhi pikiran orang dengan memberi tahu mereka apa yang harus dipikirkan dan ide atau nilai apa yang mereka miliki, tetapi dengan memberi tahu mereka masalah dan isu apa yang harus dipikirkan. Masyarakat umum cenderung memutuskan bahwa apa yang disiarkan melalui media massa benar-benar layak untuk diketahui masyarakat luas dan dipublikasikan.

Menurut Bernard C. Cohen, teori agenda setting  adalah teori  bahwa media adalah pusat penentuan fakta di mana media dapat mengangkat dua elemen  kesadaran dan pengetahuan dalam agenda publik  mengarahkan kesadaran dan perhatian publik terhadap isu-isu apa yang dianggap penting oleh publik. Dia berpendapat bahwa “sebagian besar dari waktu yang telah lewat, jurnalisme mungkin tidak berhasil berbicara kepada orang-orang yang berpikir, tetapi berhasil membuat pemirsa masuk ke dalam pemikiran mereka.” (Baran dan Dennis, 2007:13), Stephan W. Littlejohn dan Karen A. Foss berpendapat bahwa teori agenda setting  adalah teori  bahwa media menciptakan citra atau tema penting dalam pikiran. Sebab, media harus selektif dalam pemberitaannya. Saluran berita sebagai penjaga gerbang informasi membuat pilihan tentang apa yang harus dilaporkan dan bagaimana caranya.

Apa yang diketahui publik pada waktu tertentu adalah hasil dari  media gating (Littlejohn dan Foss, 2009: 16). d) Syukur Kholil mengutip pendapat Samsudin A. Rahim berpendapat bahwa agenda setting adalah peran media, yang memiliki kekuatan untuk mempengaruhi opini dan perilaku publik dengan menetapkan agenda untuk apa yang dianggap penting (Kholil, 2007:36).

Berdasarkan definisi di atas, dapat dikemukakan bahwa teori agenda setting ingin menjelaskan tentang peran besar media massa dalam menentukan agenda orang-orang yang terpapar informasi.

Publik terbiasa dengan berita yang disampaikan oleh media massa, sehingga menjadi topik pembicaraan dalam komunikasi sehari-hari. Berita atau informasi yang disampaikan oleh media massa bukan  hanya  ilmu atau informasi bagi masyarakat, tetapi bahkan dapat mengubah gaya hidup, perilaku atau sikap masyarakat.


Prinsip Dasar Teori Agenda Setting

Prinsip dasar dari teori Agenda-setting adalah bahwa ketika media menekan suatu peristiwa, media mempengaruhi publik untuk melihat peristiwa itu sebagai penting. Sederhananya, apa yang dianggap penting oleh media, juga dianggap penting oleh publik. Wasis Sarjono menulis dalam bukunya Komunikasi Penyuluhan Pembangunan (2017) bahwa teori agenda setting mengasumsikan bahwa media memiliki pengaruh yang sangat kuat, terutama karena asumsi tersebut terkait dengan pembelajaran dan bukan untuk mengubah sikap dan pendapat. Ada dua asumsi dasar dalam teori agenda, yaitu:

 

Jurnalisme dan media massa tidak mencerminkan realitas, tetapi menyaring dan membentuk isu.

Media massa menawarkan banyak topik dan lebih menekankan pada topik tertentu, yang pada gilirannya memungkinkan audiens untuk menentukan topik mana yang lebih penting daripada yang lain.

Setiap media memiliki potensinya sendiri untuk membentuk dan mengembangkan agendanya sendiri. Pada dasarnya, kunci dari teori agenda adalah menentukan peran suatu isu atau peristiwa dalam proses gating. Media cenderung membentuk persepsi publik dengan memberikan bagian pada setiap isu. Misalnya, menyoroti masalah. Penonjolan tersebut menunjukkan adanya perbedaan perhatian yang kemudian mempengaruhi persepsi (pengetahuan dan citra) terhadap peristiwa atau subjek di mata publik.

Dengan demikian, dapat dilihat bahwa teori agenda-setting bersifat unik karena mendukung dua asumsi dasar yang menarik. Pertama, teori ini  dengan jelas menyatakan bahwa media massa memiliki kekuatan untuk mempengaruhi dan membentuk persepsi masyarakat. Di sisi lain, teori ini juga mendukung hipotesis bahwa pada akhirnya segala sesuatu kembali  kepada individu, di mana ia bebas memilih apa yang ingin diterimanya.

Penerapan Teori Agenda Setting

Penerapan pertama teori agenda setting untuk mempelajari perubahan sikap pemilih selama kampanye presiden Amerika pada tahun 1968 menghasilkan hasil penelitian yang berbeda dari teori sebelumnya tentang pengaruh media terbatas. Dengan kata lain, menurut teori agenda, media memiliki kekuatan untuk menarik perhatian dan mempengaruhi publik terhadap suatu isu. Beroperasinya teori ini didasarkan pada kenyataan bahwa media sangat selektif dalam meliput berita yang menarik khalayak baik dari segi nilai berita maupun nilai jualnya. Jadi model agenda ini mengasumsikan adanya hubungan positif antara penilaian  media terhadap isu tersebut dan perhatian publik terhadap isu yang sama (Rakhmat, 1993:68).

Berdasarkan teori agenda, liputan media positif dan negatif tentang kandidat selama kampanye massa  sangat menentukan nasib seorang kandidat dalam sebuah pemilihan. Dengan demikian, timbul anggapan bahwa “mengendalikan media berarti menguasai publik” atau “mengendalikan media berarti menguasai massa (politik)”. Jauh sebelum  McCombs dan Shaw memperkenalkan teori agenda, Bernard Cohen berpendapat bahwa “pers lebih dari sekadar penyedia informasi dan opini, mereka (media) mungkin tidak dapat memberi tahu orang apa yang harus dipikirkan, tetapi memang demikian. Dunia tampaknya berbeda untuk orang yang berbeda tidak hanya menurut visi pribadi mereka  tetapi juga menurut peta yang diberikan  kepada mereka oleh media (Stanley dan Dennis, 2007: 37).

Contoh Kasus Teori Agenda Setting dalam Komunikasi Massa  Di Indonesia, ada banyak contoh agenda setting di media dan berdampak signifikan pada publik. Di Aceh, misalnya, media meliput penindasan terhadap Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sebelum Agustus 2005 atau negosiasi GAM-RI setelah Nota Kesepahaman Helsinki. Demikian pula berita tentang pemberantasan korupsi, mediator kasus (Markus), calo pajak dan agenda lainnya berhasil mempengaruhi publik kita (Nuruddin, 2007: 196).

Di Indonesia, teori agenda setting telah sering digunakan (diuji) dalam survei untuk mengukur popularitas calon presiden setiap kali sebelum pemilihan presiden sejak 2014 silam. Survei seperti  Survei Indonesia (LSI) selalu menghasilkan hasil keseluruhan yang mengejutkan karena ada perbedaan (terutama di media) antara survei pertama musim kampanye dan survei berikutnya, yang berarti bahwa hipotesis fungsi penyetelan telah terjadi. diuji lagi (Hamdani, 2011: 223).

Sebagai perbandingan,  studi Chaffee dan Izcaray (1975) tentang agenda  surat kabar dan televisi di Barquisimeto, Venezuela tidak menunjukkan  efek yang diharapkan. Penggunaan media  oleh responden oleh kedua peneliti ini tidak meningkatkan perhatian pada subjek yang paling banyak mendapat perhatian di media. Di sini tampaknya status sosial ekonomi responden mempengaruhi kepentingan relatif berbagai isu publik (Sendjaja, 1993: 26).

Studi-studi ini menunjukkan bahwa agenda  media  dapat terjadi dalam situasi yang berbeda. Namun, kondisi  negara maju dan  negara  berkembang mungkin berbeda. Masih perlu adanya penelitian terkait agenda  media di negara-negara Dunia Ketiga, karena sebagian besar agenda  yang ada telah dilakukan di Eropa dan Amerika Serikat.

Dari kasus ini kita dapat melihat bagaimana sebuah agenda bekerja, bahwa media  mengarahkan  publik “what to think” dengan memutarbalikkan dan membentuk pesan media. Kenapa disebut agenda, karena isu ini diangkat oleh media, menjadi isu nasional

Contoh lainnya yang paling jelas dari teori agenda setting adalah  berita  televisi. Ketika  kekerasan seksual terhadap anak meledak, masyarakat menerima informasi ini sebagai gambaran kenyataan yang sebenarnya, meskipun mereka tidak mengalaminya secara langsung. Informasi ini membuat masyarakat sadar akan urgensi kasus dan lebih peka terhadap petunjuk yang mengarah pada kasus tersebut. Tidak jarang setelah pelecehan seksual terhadap anak terekspos di satu daerah, kasus serupa terungkap di daerah lain.

Hal ini menunjukkan bahwa media mempengaruhi cara berpikir masyarakat, termasuk  apa yang dianggap penting dan tidak. Informasi yang disajikan di media membuat orang berpikir bahwa itu  penting dan layak untuk diperhatikan. Media massa dapat menghadirkan kepada publik apa yang  sebelumnya tidak terlihat, apakah itu  benar-benar penting atau tidak.

Kritik Terhadap Teori Agenda Setting

Teori agenda setting ini dikritik karena di kalangan peneliti media ada yang berpendapat bahwa media tidak selalu memiliki pengaruh yang kuat terhadap agenda masyarakat. Kekuatan media tergantung pada faktor-faktor seperti kredibilitas media pada isu-isu tertentu pada saat tertentu, jumlah bukti yang saling bertentangan yang dirasakan oleh anggota masyarakat individu, sejauh mana orang berbagi nilai media pada saat tertentu, dan kebutuhan. . masyarakat, Littlejohn dan Foss, Teori, hal. 417.

 Hal ini sesuai dengan pernyataan sebelumnya bahwa ada dua agenda yang menentukan apakah media mempengaruhi publik atau tidak, yaitu agenda media dan agenda publik itu sendiri.

Berdasarkan faktor-faktor ini, teori penetapan agenda setting yang sesuai dengan era dan fenomena sosial telah dikritik. McComb dan Shaw juga memprakarsai munculnya teori agenda, mengkritiknya dengan menggambarkan bahwa orang bersifat pasif, sehingga agenda media mempengaruhi agenda publik dengan mengendalikan lingkungannya. Jika dikaitkan dengan teori efek terbatas, pengaruh media terhadap khalayak tidak sebesar yang diharapkan. Ada hambatan yang menghalangi peran media terhadap publik, seperti tingkat intelektual, pendidikan agama, norma keluarga, dll.

Banyak kritik telah diajukan menanyakan di mana letak perbedaan penting antara efek media massa lalu dan pendekatan agenda untuk menjelaskan sifat dan tingkat efek media yang diungkapkan kepada publik. Dalam model ini, sedikit perhatian diberikan pada kenyataan, yang mengarah pada hubungan timbal balik antara media dan agenda publik. Sering dilupakan bahwa framing dan penyusunan agenda media serta visibilitas isu/peristiwa dalam agenda publik merupakan proses yang tidak pernah berakhir dan tidak pernah berakhir. Kurangnya perhatian terhadap proses, baik berupa agenda media maupun dalam menjelaskan mengapa hal-hal tertentu yang disampaikan melalui media mempengaruhi khalayak tertentu (Nuruddin, 2007: 198).

Kesimpulan

Sekian pembahasan singkat mengenai definisi dari teori agenda setting. Pembahasan kali ini tidak hanya membahas definisi dari teori agenda setting saja tapi juga membahas mengenai sejarah, prinsip dasar teori agenda setting, penerapan teorinya, contoh kasusnya, serta membahas mengenai kritik mengenai teori agenda setting tersebut. Memahami pengertian dari teori agenda setting menjadikan kita lebih memahami mengenai pengaruh media massa dalam membentuk pola pikir masyarakat luas.

Sunday, February 20, 2022

 


Pengertian Konvergensi Media, Proses, dan Contohnya

Konvergensi media merupakan pilihan tak terhindarkan bagi perusahaan media massa. Konvergensi menjadi kunci keberlangsung industri media di era multimedia.


Konvergensi media mengubah semua elemen informasi menjadi bentuk digital. Konvergensi media erat kaitannya dengan era digitalisasi. Berikut ini Pengertian Konvergensi Media dan Contohnya.


Teori Konvergensi Media diperkenalkan Henry Jenkins dalam bukunya 
Convergence Culture: Where Old and New Media Collide tahun 2006.

Teori tersebut menyebutkan, teknologi baru membawa media yang berbeda secara bersamaan untuk menjalankan fungsi baru. Teknologi baru mengubah konten media dan mengubah interaksi manusia dengan lembaga-lembaga sosial seperti pemerintah, lembaga pendidikan, dan sistem perdagangan.

Pengertian Konvergensi Media 

Secara bahasa, konvèrgènsi (convergency, convergence) artinya bertemu di suatu tempat atau memusat. Konvergen artinya bersifat menuju satu titik pertemuan; bersifat memusat. Moving toward union or uniformity.

Brigg (2006:326) menyebut konvergensi merujuk pada sebuah perkawinan antara komputer dan telekomunikasi yang dilanjutkan dengan bersatunya industri media dan telekomunikasi.

 

 

Konvergensi media, fenomena yang melibatkan interkoneksi teknologi informasi dan komunikasi, jaringan komputer, dan konten media. Konvergensi media menyatukan "Tiga C" —Computing, Communication, dan Content — dan merupakan konsekuensi langsung dari digitalisasi konten media dan mempopulerkan Internet.  Lima elemen utama dari konvergensi media — teknologi, industri, sosial, tekstual, dan politik. (Encyclopedia Britannica)


Konvergensi media adalah istilah yang dapat merujuk pada (1) penggabungan teknologi media yang sebelumnya berbeda dan bentuk media karena digitalisasi dan jaringan komputer; atau (2) strategi ekonomi di mana properti media yang dimiliki oleh perusahaan komunikasi menggunakan digitalisasi dan jaringan komputer untuk bekerja bersama (The Canadian Encyclopedia).

Pada 1978, Nicholas Negroponte dari Massachusetts Institute of Technology pertama kali menggunakan istilah “convergence”, untuk menggambarkan pertemuan industri-industri media.

Konvergensi media adalah fenomena bergabungnya berbagai media yang sebelumnya dianggap berbeda dan terpisah yang meliputi media cetak maupun media elektronik (misalnya televisi, radio, surat kabar, dan komputer) menjadi satu ke dalam sebuah media tunggal.

Konvergensi media adalah proses penggabungan berbagai bentuk isi media yang terdiri dari teks, foto, gambar, audio, video, serta animasi yang dapat ditampilkan pada salah satu platform (telepon seluler, laptop, televisi, dan komputer). Melalui teknologi digital memungkinkan isi media dapat dikirim ke seluruh platform media (internet, televisi, suratkabar, radio), dimana kemudian konsumen dapat menikmati melalui berbagai platform (telepon seluler, gawai, netbook, laptop, televisi, dan komputer)

 

Konvergensi media adalah penggabungan atau menyatunya saluran komunikasi massa, seperti media cetak, radio, televisi, internet, bersama dengan teknologi-teknologi portabel dan interaktifnya, melalui berbagai platform presentasi digital.

Menurut Albert, konvergensi media adalah fenomena bergabungnya berbagai media yang sebelumnya dianggap berbeda dan terpisah yang meliputi media cetak maupun media elektronik (misalnya televisi, radio, surat kabar, dan komputer) menjadi satu ke dalam sebuah media tunggal untuk diarahkan dan digunakan dalam satu titik tujuan.


Dalam perumusan yang lebih sederhana, konvergensi media adalah bergabungnya atau terkombinasinya berbagai jenis media, yang sebelumnya dianggap terpisah dan berbeda (misalnya, komputer, televisi, radio, dan suratkabar), ke dalam sebuah media tunggal.


Di level perusahaan, konvergensi ini menyatukan perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang informasi (komputer), jejaring telekomunikasi, dan penyedia konten (penerbit buku, suratkabar, majalah, stasiun TV, radio, musik, film, dan hiburan).

Konvergensi media memungkinkan para profesional di bidang media massa untuk menyampaikan berita dan menghadirkan informasi dan hiburan, dengan menggunakan berbagai macam media.



Komunikasi yang sudah dikonvergensikan menyediakan berbagai macam alat untuk penyampaian berita, dan memungkinkan konsumen untuk memilih tingkat interaktivitasnya, seraya mereka bisa mengarahkan sendiri penyampaian kontennya.

Konvergensi media memungkinkan audiens (khalayak) media massa untuk berinteraksi dengan media massa dan bahkan mengisi konten media massa. Audiens sekarang dapat mengontrol kapan, di mana dan bagaimana mereka mengakses dan berhubungan dengan informasi, dalam berbagai jenisnya.

Proses Konvergensi Media

Proses konvergensi media melalui lima tahap:

1. Cross-promotion

Media yang berkonvergensi saling kerja sama untuk mempromosikan dan memperkenakan konten media satu sama lain. Kerjasama dalam bentuk iklan, audio, video, teks dan elemen visual lainnya.

2. Cloning 

Cloning yaitu konten satu media diduplikasi dan diperbanyak untuk dimuat di media lain sebagaimana aslinya.

3. Competition 

Media bermitra sekaligus bersaing pada saat yang sama. Kedua media yang terkonvergensi saling bekerja sama dengan promosi, tetapi produk berita tetap dilakukan masing-masing. Media satu grup tapi yang newsroomnya terpisah.

4. Content Sharing

Berbagi konten yaitu kedua media yang berlainan saling berbagi konten dengan bentuk konten tersebut dikemas ulang atau berbagi budjet pendapatan.

5. Full Convergence

Yaitu media yang berbeda saling bekerja sama secara penuh untuk semua lini bisnis, mulai dari pengumpulan bahan, produksi, pemasaran, dan distribusi konten.

Contoh Konvergensi Media

·        Kompas (Harian, Kompas TV, Kompas.com)

·        Tempo Media (Majalah, Harian, tempo.co, Tempo TV)

·        Republika (Harian, Republika.co.id)

·        Media Indonesia (Harian, Metro TV, Metrotv.com) 

·        Seputar Indonesia (Harian, Sindo.com, RCTI)



 

Copyright zOe Production. Powered by Blogger.

Contact Us

Name

Email *

Message *

Lighting, editing